Pariwisata Penggerak Ekonomi Baru Sumatera Barat

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Pariwisata Penggerak Ekonomi Baru Sumatera Barat

31 January 2020 20:50 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 25 kali

Indosiana - Selama ini sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan menjadi penggerak ekonomi Sumatera Barat. Namun, ke depannya sektor pariwisata dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Demi bisa menjadikan pariwisata sebagai sumber ekonomi baru dibutuhkan sejumlah upaya agar angka kunjungan wisatawan terus meningkat dengan mengoptimalkan daya tarik objek wisata.

Berdasarkan catatan yang dihimpun dari Dinas Pariwisata setempat jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat pada 2018 diperkirakan mencapai 8,1 juta orang atau mengalami penambahan  tipis dari target  8 juta orang. Dari 8,1 juta wisatawan tersebut terdiri atas  8.073.070 orang wisatawan nusantara dan 57.638 orang wisatawan mancanegara. (Berita portal Antara, tanggal 7 Januari 2019.)

"Perhitungan jumlah wisman dan wisnu 2019 masih dalam proses perhitungan dari kab/kota, namun melihat angka bulan nov 2019, diperkirakan wisman bisa mencapai lebih kurang 57.000 dan wisnu bisa mencapai lebih kurang 8.000.000 orang.

Di tahun 2020 bertambah 1 juta orang menjadi 9 juta orang kunjungan ke Sumbar, sesuatu yang wajar, karena kinerja wisatawan nusantara tahun 2018 sudah mencapai 8,1 juta, jadi rasanya dengan adanya event yang begitu padat di tahun 2020 wajar kita berharap lebih
", ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat  Novrial, SE, MA, Akt disela-sela kesibukan, Jum'at (31/1/2020).

Kadis Pariwisata tersebut mengatakan, untuk 2020 kita lebih optimis, pertama untuk wisman karena promosi mulai digencarkan melalui sales mission langsung di pasar potensial seperti malaysia dan singapura, melalui B to B meeting dengan memfasilitasi industri pariwisata dengan partner di luar negeri (LN), dan melalui promosi famtrip dan medsos bersama. 

"Untuk wisnu kita akan konsentrasi optimalisasi MICE melalui surat gubernur ke kementerian/ lembaga dan organisasi profesi, promosi ke perantau, dan promosi event nasional penastani, MTQ, harganas, dll", ujar Novrial. 

Novrial menyebutkan sejauh ini minat wisatawan ke Sumbar relatif terjaga tinggi, namun yang perlu diperhatikan dengan seksama adalah konsistensi informasi tentang calender of event dan informasi potensi ekraf seperti kuliner, fashion dan seni pertunjukan yang semakin diminati wisatawan sebagai motif kunjungan selain objek destinasi alam.

"Memang belum dapat diukur dengan pasti berapa multiplier effect dan trickle down effect kepariwisataan langsung kepada masyarakat, namun kalau occupacy hotel tinggi artinya ada kepastian tenaga kerja, kepastian pasokan bahan baku untuk kebutuhan hotel. Kalau jumlah wisatawan tinggi potensi belanja kuliner, belanja produk fashion lokal dan belanja gift, biaya mobilitas serta retribusi objek wisata pasti juga lebih besar", ungkapnya. 

TIdak hanya itu, Ia juga menegaskan yang perlu dioptimalkan adalah hasil langsung yang dirasakan masyarakat harus lebih ditingkatkan. Hal-hal seperti objek dan atraksi spesifik di destinasi wisata harus diorganisir langsung oleh masyarakat setempat, cenderamata unik juga harus dihasilkan oleh masyarakat setempat, komunikasi dan interaksi yang menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama dan ingin kembali lagi juga harus ditumbuhkembangkan di seluruh lapisan dan elemen masyarakat.

"Banyak ahli yang sudah mengkaji bahwa pariwisata adalah tulang punggung utana perekonomian sumatera barat. Hal tsb hanya bisa terwujud kalau masyarakat berperan aktif sebagai tuan rumah dalam aktifitas kepariwisataan yang tentu saja akan menerima manfaat secara materi dari hal tersebut. Kita harus terus membangun sense of belonging masyarakat Sumbar terhadap kepariwisataan", harap Novrial.

Dr. James Spillane, SJ, yang akrab dipanggil Romo Spillane, sejak tahun 1980 beliau aktif di bidang pariwisata. Beliau sukses mendirikan P3PAR USD (Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata), banyak terlibat di ASITA (Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies), PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), dan dalam 9 tahun terahir berhasil mendirikan Tourism and Hospitality Management di St. Augustine University of Tanzania [SAUT] di Mwanza, Tanzania.

Dalam sebuah artikel Romo Spillane mengatakan, sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pemanfaatan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. 

Pariwisata dipandang sebagai kegiatan yang mempunyai multidimensi dari rangkaian suatu proses pembangunan. Pembangunan sektor pariwisata menyangkut aspek sosial budaya, ekonomi dan politik.(Spillane, 1994 :14).

Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. 

Selama berwisata, wisatawan berbelanja, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan pasar barang dan jasa. Selanjutnya wisatawan secara tidak langsung menimbulkan permintaan akan barang modal dan bahan untuk berproduksi memenuhi permintaan wisatawan akan barang dan jasa tersebut. 

Dalam usaha memenuhi permintaan wisatawan diperlukan investasi di bidang transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan restoran dan lain-lain (Spillane, 1994 : 20).(*)
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari