Bisnis Cicak Kering Tembus Pasar China

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Bisnis Cicak Kering Tembus Pasar China

07 April 2019 21:02 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 131 kali
Indosiana - Cicak merupakan jenis hewan reptil yang sering kita temui merayap di dinding. Siapa sangka, hewan yang dianggap menjijikkan bagi sebagian orang ini ternyata merupakan komoditas dagang yang menjanjikan. Bahkan komoditas ini bisa menembus pasar ekspor ke China.

Ita Purwita, seorang penjual yang memanfaatkan peluang bisnis melalui penjualan cicak. Wanita asal Cirebon, Jawa Barat ini tidak menjual cicak dalam keadaan hidup, melainkan yang sudah mati dan dalam keadaan kering.

Dia menjelaskan, bisnis cicak kering ini sebenarnya usaha turun temurun yang sudah dimulai oleh sang ibu sejak 16 tahun lalu. Kemudian Ita melanjutkan dan mengembangkan usaha orang tuanya tersebut.

"Awalnya dari usahanya ibu, sudah 16 tahunan. Saya baru merintis sekitar setengah tahun. Awalnya ada permintaan. Dikirim ke Surabaya," ujar Ita, dikutip dari liputan6.com di Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Menurut Ita, cicak banyak dicari lantaran menjadi bahan baku obat, khususnya ramuan obat China. Oleh sebab itu, selama ini permintaan dari Negeri Tirai Bambu tersebut cukup tinggi.

‎"Biasanya untuk obat. Itu diambil semua bagian tubuh cicak, seperti langsung digiling. Permintaan dari China. Biasa kirimnya per bulan sebanyak 1 kwintal. Harganya per kg itu Rp 250 ribu," kata dia.

Ita mengaku mendapatkan cicaknya dari wilayah Cirebon dan sekitar Jawa Tengah. Sebelum dijual, cicak yang didapat dari pengepul melewati sejumlah proses agar bisa menjadi kering dan siap jual.

"Dapatnya dari wilayah Cirebon, kemudian Jawa Tengah. Itu ada pengepulnya. ‎Masih hidup kemudian kita keringkan. Kita rendam pakai sabun, nanti lama-lama mati sendiri, kemudian kita oven malam hari, paginya jemur di matahari biar lebih kering. Kemudian baru dijual," jelas dia.

Dari bisnis ini, Ita mengaku meraup omzet hingga Rp 5 juta per bulan. Dia berharap usaha yang dijalankannya terus berkembang dan bisa menjual cicaknya ke lebih banyak negara.(liputan6)

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)