A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Baru Dua Minggu, Teroris Selandia Baru Sudah Mengeluh Di Penjara

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Baru Dua Minggu, Teroris Selandia Baru Sudah Mengeluh Di Penjara

31 March 2019 20:59 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 27 kali
Indosiana - Terdakwa kasus penembakan dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru mengeluh selama dua pekan hidup di penjara. Ia mengklaim telah kehilangan hak-hak dasarnya selama di penjara.

Dikutip dari liputan6, seorang anonim mengatakan, Brenton Tarrant, pelaku pembunuhan massal pada Jumat 15 Maret 2019 lalu, mengeluh ketiadaan akses terhadap kunjungan dan telepon di Penjara Paremoremo, Kota Auckland.

Perlu diketahui, Penjara di Paremoremo memiliki penjagaan yang paling ketat dibandingkan lainnya. 

"Dia terus-menerus diawasi dan diasingkan. Dia tidak mendapatkan hak minimum seperti yang biasa (diberikan kepada tahanan lain). Jadi, tidak ada panggilan telepon dan tidak ada kunjungan," klaim sumber, mengutip dari liputan 6 pada Minggu (31/3/2019)

Namun, disisi lain, sumber yang sama tidak melihat adanya pelanggaran terhadap undang-undang terkait hak narapidana.

Undang-undang Permasyarakatan di Selandia Baru mengatur bahwa setiap tahanan memilki hak untuk berolahraga, tidur, makanan yang layak, satu pengunjung pribadi dalam seminggu, panggilan telepon, surat, penasihat, hukum, serta perawatan medis. Namun, layanan tersebut dikecualikan untuk beberapa kasus. 

Sementara, dalam hukum yang sama, sebagian hak dapat ditangguhkan karena berbagai alasan. Misalnya, narapidana memang berstatus tahanan dengan penjagaan ketat (protective custody)  atau alasan lain yang diatur otoritas.

Sumber anonim tersebut juga menjelaskan kondisi penjara pelaku teror masjid Selandia Baru tersebut. Tempat pria tersebut ditahan, disebut memiliki pintu depan dan belakang. Di bagian depan terdapat sejumlah penjaga, sedangkan lorong belakang terdapat halaman penjara yang berukuran sama dengan sel. Halaman itu memiliki lantai dan dinding beton. Biasanya, penjaga memeberikannya kesempatan pada tahanan untuk masuk ke halaman selama satu jam dalam sehari.(liputan6)
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari