OPEC Batasi Produksi, Harga Minyak Melonjak Naik

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

OPEC Batasi Produksi, Harga Minyak Melonjak Naik

08 December 2018 06:47 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 87 kali
Indosiana - Arab Saudi dan produsen lain yang tergabung di dalam OPEC serta beberapa negara lain di luar OPEC seperti Rusia sepakan memangkas produksi minyak. Hal tersebut dilakukan agar persediaan di pasar global tak membludak. Akibatnya, harga minya melonjak naik dari 2 persen pada perdagangan pada Jum'at kemarin.

Mengutip liputan6, Sabtu (8/12/2018), harga minyak mentah Brent naik USD 1,64 atau 2,9 persen menjadi USD 61,70 per barel pada pukul 1.46 sore waktu New York. Di awal perdagangan, harga minyak yang menjadi patokan global tersebut turun di bawah USD 60 per barel karena kekhawatiran pelaku pasar tak ada keputusan apapun dalam pertemuan OPEC.

Sementara untuk harga minyak mentah AS naik USD 1,10 menjadi USD 52,59 per barel, setelah sebelumnya mencapai sesi tertinggi di USD 54,22 per barel.

Organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutu yang dipimpin Rusia, disebut sebagai OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari mulai 2019. Angka tersebut lebih besar dibandingkan harapan pasar yang berada di angka 1 juta barel per hari.

Meski ada tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan harga minyak mentah. Namun OPEC dan sekutunya tetap mencapai kesepakatan pemangkasan produksi tersebut.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengkonfirmasi pemotongan produksi gabungan 1,2 juta barel per hari tersebut. Menurutnya, jika tak ada pemotongan maka pasar akan kelebihan pasokan.

"Tanpa adanya pemotongan produksi ini akan ada tekanan ke bawah yang ekstrim di pasar," jelas John Paisie, Wakil Presiden Eksekutif Perusahaan Konsultan Energi Stratas Advisors.

"Saya pikir orang-orang Saudi mencoba untuk bersepakat dengan banyak pihak. mereka ingin memastikan mempertahankan hubungan dengan AS, tetapi mereka juga perlu melakukan pemotongan karena membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi untuk menyeimbangkan anggaran mereka," tambah dia.

"Pemotongan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari ini tidak menghilangkan persediaan global tetapi mampu membangun harga semester pertama di tahun depan," kata Harry Tchilinguirian, analis energi di BNP Paribas, London.

Sebelumnya, Harga minyak telah jatuh 30 persen sejak Oktober karena pasokan telah melonjak dan pertumbuhan permintaan global telah melemah. Harga turun hampir 3 persen pada Kamis kemarin setelah OPEC mengakhiri pertemuan di Wina dengan hanya kesepakatan sementara untuk mengatasi harga yang lemah.

Seorang sumber Reuters di OPEC mengatakan bahwa Iran memberi OPEC lampu hijau pada Jumat untuk mengurangi produksi minyak setelah menemukan kompromi dengan Arab Saudi atas kemungkinan pengecualian dari pemotongan.

Sedangkan produksi dari produsen terbesar dunia - OPEC, Rusia dan Amerika Serikat - telah meningkat 3,3 juta barel per hari sejak akhir 2017 menjadi 56,38 juta barel per hari. Angka tersebut memenuhi hampir 60 persen dari konsumsi global.(liputan6)

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari