Guru Honorer Menguliahi 5 Anaknya Ke Jepang

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Guru Honorer Menguliahi 5 Anaknya Ke Jepang

27 October 2018 21:02 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 37 kali
Indosiana - Suharni (54) seorang guru honorer yang punya semangat tinggi. Setelah ditinggal suamniya karena hepatitis, ia berjuang menghidupi anak-anaknya Rp 165 ribu per bulan.

Meski demikian, Suharni tidak pernah menyerah untuk menyekolahkan lima putrinya hingga perguruan tinggi. Bahkan anak pertamanya telah meraih gelar doktor dar Jepang.

"Kalau dihitung secara matematika ndak mungkin ketemu. Tapi matematikanya Allah kan ndak begitu," tutur Suharni ketika ditanya cara membiayai pendidikan putri-putrinya dilansir dari liputan6.

Di awal bekerja pada tahun 2005 sebagai guru honorer, gaji yang diterima amat minim. Padahal dia harus membiayai kuliah dua putrinya. Si sulung, Retno Wahyu Nurhayati Ph.D yang kala itu kuliah di Institut Pertanian Bogor, dan putri kedua, Novia Dyah Kusumadewi, di Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo.

"Malam kadang ndak bisa tidur mikir biaya kuliah dan sekolah anak-anak," ucap guru honorer di SMK Muhammadiyah 6 Gemolong, Sragen, Jawa Tengah ini.

Suaminya meninggal pad saat anak pertamanya kelas 3 SMP dan si bungsu, Janita Dyah Kusuma berumur dua tahun. Kematian sang suami membuat Suharni harus mengambil alih peran dan tanggung jawab. Dia merangkap sebagai ibu sekaligus ayah.

Untuk menambah penghasilan, Suharni membuka toko kelontong di depan rumah. Sambil menunggu toko, ia menemani anak-anaknya belajar. Dia menggelar tikar untuk belajar bersama.

Alhasil, Jerih payah Suharni mengantarkan seluruh putrinya berkuliah. Ia kini tersenyum bangga ketika Retno, sang sulung berhasil meraih gelar S2 dan S3 di Osaka University, Jepang.

Tidak hanya itu, pada 2017 lalu, Retno yang bekerja di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mendapatkan penghargaan L'Oreal-Unesco For Women in Science National Fellowship Awards.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Sukiman mengatakan keberhasilan Retno tak lepas dari peran keluarga. Orang tuanya terlibat aktif dalam pendidikan anak-anak mereka.

"Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama. Pilar keluarga menjadi kunci keberhasilan pendidikan anak," ujarnya.

Sukiman berharap, pemerintah daerah, masyarakat, perusahaan swasta dan BUMN turut terlibat dalam program pendidikan keluarga. Misalnya dengan menggelar seminar pendidikan keluarga (parenting) bagi masyarakat sekitar wilayah usaha sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR).

"Swasta memiliki peran yang amat besar dalam penyebarluasan program pendidikan keluarga. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri, butuh kolaborasi dengan berbagai pihak," ajak Sukiman.

Untuk menginspirasi para keluarga lain di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memberikan Apresiasi kepada orang tua Retno, Zizi, dan delapan orang tua lain yang dinilai menginspirasi.(Liputan6)

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari