Ratna Sarumpaet

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Ratna Sarumpaet

09 October 2018 20:35 | • Wartawan : redaksi • Editor : Laura Renalsi • Dibaca : 74 kali

INDOSIANA - Ratna Sarumpaet merupakan seorang aktivis sosial dan seniman. Ia lahir pada 16 Juli 1949 di Tarutung, Tapanuli Utara. Ratna awalnya dikenal karena aktivitasnya di dunia teater. Melalui kesenian ini pula ia menyuarakan pendapat serta keberpihakannya mengenai masalah sosial.

Ratna Sarumpaet adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Lahir dari pasangan Saladin Sarumpaet dan Yulia Hutabara. Ia menikah dengan Achmad Fahmy Alhady dan memiliki empat orang anak dari pernikahan tersebut.

Ratna dulunya pernah berkuliah di fakultas arsitektur dan fakultas hukum di UKI. Setelah itu ia mempelajari dunia teater ketika bergabung dengan Bengkel Teater Yogyakarta selama 10 bulan pada tahun 1969. Pada tahun 1974 ia mendirikan kelompok drama satu Merah Panggung dan pertama kali mementaskan karyanya sendiri yang  berjudul Rubayyat Omar Khayam.

Nama Ratna Sarumpaet baru mendapat sorotan dari pemerintah Orde Baru pada dekade 90-an. Perhatiannya pada penutupan kasus pembunuhan Marsinah di tahun 1997 membuatnya akhirnya melahirkan karya monolog Marsinah Menggugat. Pembunuhan Marsinah sendiri terjadi di tahun 1993 dan pada tahun 1997. Kepala Kepolisian RI menutup kasusnya karena dianggap DNA Marsinah telah tercemar.

Akibat kasus Marsinah tersebut, rumah Ratna Sarumpaet di Kampung Melayu Kecil sekaligus menjadi sanggar Satu Merah Panggung terus diawasi intel. Nama Ratna sendiri menjadi salah satu orang yang harus terus diawasi ketat karena membahayakan stabilitas negara.

Akhir 1997, Ratna melakukan perlawanan dengan mengumpulkan 46 LSM dan organisasi-organisasi Pro Demokrasi di kediamannya, lalu membentuk aliansi bernama Siaga. Pada Maret 1998, menjelang sidang Umum MPR, pemerintah mengeluarkan larangan berkumpul bagi lebih dari lima orang. Ratna bersama Siaga justru menggelar sebuah Sidang Rakyat “People Summit” di Ancol. Pertemuan ini kemudian dibubarkan dan kemudian Ratna beserta tujuh orang lainnya ditangkap karena berbagai tuduhan termasuk makar.

Setelah dikurung selama 70 hari, sehari sebelum Suharto resmi lengser, Ratna dibebaskan. Usai tumbangnya Soeharto, pada 14-16 Agustus 1998, bersama Siaga, dia menggelar “Dialog Nasional untuk Demokrasi” di Bali Room, Hotel Indonesia dengan tujuan untuk membahas cetak biru Pengelolaan Negara RI yang kemudian diserahkan kepada Presiden Habibie.

Karena situasi politik yang terus meruncing, pada November 1998 Ratna akhirnya diungsikan ke Singapura dan selanjutnya ke Eropa. Pada 1998 ini pula, ARTE, sebuah stasiun televisi Prancis dan Amnesty International mengabadikan perjalanan Ratna sebagai pejuang HAM dalam sebuah film dokumenter berjudul "The Last Prisoner of Soeharto".

Setelah reformasi, Ratna Sarumpaet mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) yang bertujuan membantu siapapun yang membutuhkan. Berbagai masalah ditangani di RSCC ini mulai dari persoalan kelaparan, korupsi, KDRT, banjir bandang, dan lain-lain.

Ia memiliki kepedulian yang tinggi mengenai masalah perdagangan anak di Indonesia. Hasilnya adalah sebuah karyanya yang berjudul "Pelacur dan Sang Presiden" yang kemudian difilmkan dan berubah judul sebagai "Jamilan dan Sang Presiden. Film ini sendiri mendapat banyak penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada tahun 2013, Ratna Sarumpaet bersama MKRI pernah menuntut agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Wakil Presiden Budiono diturunkan. Menurutnya, SBY dianggap belum menyelesaikan banyak hal dan menimbulkan masalah. Sempat ada isu akan terjadi demo besar-besaran pada 25 Maret untuk menurunkan presiden walau akhirnya tidak terwujud. Walau begitu, ancaman demo besar-besaran itu sempat membuat polisi dan tentara bersiaga penuh.

Nama Ratna Sarumpaet kembali mencuat pada Desember 2016. Pada saat itu, bersama sembilan tokoh lain, nama Ratna disebut sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam gerakan makar terhadap negara. Hanya saja pada akhirnya Ratna Sarumpaet kembali dibebaskan.


KARIR

* Ketua DKJ (2003-2006)
* Penulis Naskah Drama dan Sutradara Drama
* Penulis Scenario Film & Sutradara Film
* Editor Film bekerjasama dengan MGM, Los Angeles (1985-1986)
* Human Rights Activist
* Anggota Kehormatan PEN International
* Anggota / Pengurus International Women Playwright

PENGHARGAAN

* Female Human Rights special Award dari The Asia Foundation For Human Rights di Tokyo, Jepang (1998)
* TSUNAMI Award (Ratna Sarumpaet Crisis Center) 2005, Aceh
* NETPAC Award, Asiatica Film Mediale, Rome, Film Jamila % Sang Presiden, 2009
* YOUTH PRIZE Vesoul International Film Festival, France, Film Jamila & Sang Presiden, 2010
* PUBLIC PRIZE Vesoul International Film Festival, France, Film Jamila & Sang Presiden, 2010.
(merdeka)

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari