Perdebatan tentang konflik Palestina dan Israel

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Perdebatan tentang konflik Palestina dan Israel

19 May 2018 09:51 | • Wartawan : redaksi • Editor : • Dibaca : 28 kali
Indosiana.com - Konflik Palestina-Israel memang telah terjadi sejak lama. Hingga kini, konflik tersebut belum juga menemui tanda-tanda akan usai. Banyak perdebatan mengenai perjuangan perdamaian Palestina dan mengenai pendudukan Israel di antara para pakar dan pembuat kebijakan.

Beberapa hal ini merupakan hal-hal yang sering diperbedatkan mengenai Palestina dan Israel, sebagaimana dikutip dari laman merdekacom, Jumat (18/5):

1. Konflik Palestina-Israel adalah konflik agama

Ada yang menyebut konflik Palestina-Israel adalah konflik agama. Namun sebenarnya hal ini tidak akurat. Palestina bukanlah negara monolit agama. Meskipun memiliki mayoritas Muslim ada di sana, Palestina juga diduduki oleh kaum Nasrani dan Yahudi.

Selain itu, sebelum pemukiman Zionis di akhir Kekaisaran Ottoman, keberagaman agama sudah menjadi ciri khas Palestina yang bersejarah. Bahkan setelah migrasi Yahudi dimulai, para pemukim Zionis umumnya sekuler seperti penduduk asli Palestina.

Selain itu, ini juga bukan hanya masalah akurasi sejarah. Namun karena dibingkai oleh konflik agama, orang-orang didorong untuk melihat bahwa konflik itu adalah pertikaian personal antara dua pihak yang memiliki perbedaan penafsiran dalam agama masing-masing.

2. Palestina disebut-sebut menolak kesepakatan yang adil

Argumen ini seolah-olah menyatakan bahwa setiap kesepakatan yang mencakup pencaplokan tanah bisa disebut sesuatu yang adil. Namun jika dilihat dari perjanjian PBB yang membagi wilayah Palestina-Israel pada 1947 lalu, sudah bisa dilihat bahwa pembagiannya tidak proporsional, di mana 55 persen lahan dialokasikan untuk populasi Yahudi.

Pada kenyataannya, Palestina tidak pernah ditawari kesepakatan yang memungkinkan agar bisa merdeka, cukup, dan aman.

3. Palestina tidak menginginkan perdamaian

Argumen ini juga seolah menyatakan bahwa warga Palestina tidak menginginkan perdamaian karena menolak pendudukan dan penindasan brutal terhadap mereka.

Padahal orang yang dijajah memiliki hak hukum dan moral untuk membela diri. Palestina menginginkan perdamaian, tetapi keadilan selalu menjadi prasyarat perdamaian.

4. Israel punya hak untuk hidup

Klaim ini adalah sebuah istilah propaganda Amerika Serikat dan Israel. Sebab pertama, argumen ini hanya ditempatkan secara rahasia dalam hubungannya dengan Israel, yang bertentangan dengan Palestina atau hampir semua negara lain.
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari