Saya sadar mengapa pernah dianggap diktator

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Saya sadar mengapa pernah dianggap diktator

11 May 2018 09:33 | • Wartawan : redaksi • Editor : • Dibaca : 53 kali

Indosiana.com - Mahathir pernah menjadi perdana menteri selama 22 tahun sejak 1981. Sebagai pemimpin Malaysia, dia dikenal sebagai sosok yang keras, tanpa kompromi, tapi berhasil mengubah Malaysia menjadi negara industri modern.

Sejak memutuskan pensiun dia tidak pernah lepas dari sorotan media. Dua tahun lalu dia kembali aktif di dunia politik di kubu oposisi. Mahathir berjanji akan menggulingkan Najib Razak dari kursi perdana menteri lantaran kasus skandal dugaan korupsi di badan negara 1MDB.Sebagai bentuk pengorbanannya dia bahkan mundur dari Organisasi Bangsa Melayu Bersatu (UMNO), partai yang ikut dia bangun sejak muda.

"Di kala itu saya adalah penentang keras Mahathir," ujar Joseph Paul, 70 tahun, pensiunan dinas sosial yang bergabung dengan ribuan rakyat Malaysia di Kuala Lumpur untuk merayakan kemenangan Mahathir.

"Politik, kata orang, adalah seni mengelola kemungkinan, jadi kalau dia kembali untuk menyingkirkan penjahat, mengapa tidak?"

Dilansir dari laman merdekacom, jum'at (11/5), hasil resmi Komisi Pemilihan Umum kemarin memperlihatkan koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Mahathir meraih 113 dari 222 kursi parlemen. Angka itu cukup untuk memenangkan suara mayoritas di parlemen.

Keberhasilannya membangun negeri membuat dia digelari "Bapak Malaysia Modern" meski gaya kepemimpinannya terbilang keras dan tanpa kompromi.Mahathir beberapa kali menjebloskan lawan politiknya ke penjara. Para pengamat menyebut dia melarang kebebasan berpendapat dan menindas lawan politiknya. Itu juga yang dialami mantan wakilnya sebagai perdana menteri, Anwar Ibrahim, yang kini masih di penjara karena didakwa melakukan sodomi dan korupsi. Di masa lima tahun awal kepemimpinannya, Mahathir menjebloskan lebih dari seratus politisi oposisi, akademisi, dan aktivis tanpa pengadilan.

Mahathir kini satu kubu dengan Anwar Ibrahim dan dia berjanji akan memberinya pengampunan. Dia juga sudah berjanji akan mundur dan membiarkan Anwar menjadi perdana menteri.Dalam wawancara Maret lalu dia mengatakan akan terus berjuang menumbangkan Najib Razak meski jika kalah dalam pemilu.

"Saya akan berumur 90an tahun dan secara fisik tidak sekuat dulu," kata dia. "Tapi kalau saya masih sehat saya akan terus berjuang."Mahathir juga mengaku dia pernah berbuat salah di masa lalu. Dalam tulisannya di blog pada Januari dia menyebut rakyat dan media tidak pernah luput menyoroti dirinya pernah memerintah secara otoriter selama 22 tahun.

"Menengok ke belakang, saya sadar mengapa sebagai perdana menteri Malaysia saya pernah dianggap diktator," tulis Mahathir. "Ada banyak hal yang saya lakukan di masa lalu yang mirip perbuatan diktator."
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari