Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Kisah pilu Kekuatan cinta tak berdaya di hadapan hukum

10 August 2017 12:32 | • Wartawan : redaksi • Editor : Andrico Putra • Dibaca : 29 kali

Jakrta - Seorang pria bernama Fidelis Arie Sudewarto (36) divonis 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat. Vonis dijatuhkan karena Fidelis kedapatan menanam tanaman terlarang di negeri yang konservatif ini, yaitu ganja.

Padahal Fidelis menanam ganja bukan untuk digunakan olehnya apalagi untuk diperjualbelikan. Dia menanam pohon ganja untuk mengobati penyakit istrinya, Yeni Riawati (39) yang menderita penyakit syringomyelia (tumbuhnya kista berisi cairan dalam sumsum tulang belakang). Tragedi ini bermula pada tahun 2013 ketika istri Fidelis mengandung anak kedua. Kaki kanannya tiba-tiba tidak dapat digerakkan. Hingga Januari 2016, keadaan Yeni semakin parah dan kemudian diketahui menderita syringomyelia.

Berdasarkan riset atas inisiatif pribadi, PNS di Pemda Kabupaten Sanggau ini menemukan bahwa penyakit istrinya dapat disembuhkan dengan ekstrak ganja. Dia juga banyak menerima masukan dari sejumlah pihak di luar negeri melalui internet. Memang diketahui, ganja di sejumlah negara telah dilegalkan guna kepentingan medis bahkan untuk kepentingan rekreasi.

Maka dari itu, ia pun menanam ganja, meski negara memaknainya sebagai Narkotika Golongan I. Terkait kepemilikan dan ancaman hukumannya, diatur dalam Pasal 111 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sejak Fidelis ditangkap BNN lantaran menanam ganja di halaman rumah, kondisi istrinya, Yeni menjadi parah karena tak lagi mendapatkan pengobatan dari ekstrak ganja yang ditanam oleh suaminya. Yeni akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Mth Jaman Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, 25 Maret 2017 lalu atau kurang lebih satu bulan setelah suaminya ditahan. Padahal, saat diberikan ekstrak ganja, kondisi sang istri berangsur membaik.

Fidelis menyampaikan nota pembelaan atas tuduhan menanam ganja yang terlarang tersebut pada (19/7) lalu. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Fidelis hukuman lima bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider satu bulan penjara. Fidelis diberi kesempatan untuk membela diri. Bukannya menggunakan kesempatan itu untuk membela diri, Fidelis memakai kesempatan itu untuk menulis surat untuk istrinya tercinta, Yeni Riawati. Ini menjadi bukti cinta Fidelis sangat besar ke sang istri.

"Papa tahu selama ini Mama sudah letih dan putus asa karena sakit yang Mama derita tidak kunjung sembuh, padahal sudah berganti-ganti rumah sakit, sudah memakan bermacam-macam obat dari dokter, pergi ke berbagai pengobatan alternatif, dan minum obat-obatan herbal. Namun, semua itu tidak membuat Mama menjadi lebih baik, malahan hanya menguras habis semua tabungan yang sudah susah payah kita kumpulkan bersama," kata Fidelis membacakan nota pembelaan dalam sidang.

"Rencana kita untuk mengecat rumah pun harus kandas lagi, padahal semenjak kita berhasil membangun rumah sederhana kita secara bertahap, kita belum pernah mengecatnya, bahkan sampai atapnya ada yang bocor, Papa pun belum bisa memperbaikinya."

Dalam nota pembelaan itu, Fidelis juga bercerita tentang asal muasal dirinya menggunakan ekstrak ganja. Awalnya, dia menemukan artikel di sebuah web blogger yang ditulis oleh Christina Evans. Dia adalah seorang ibu dengan dua orang anak yang tinggal di Delta British Colombia, Canada. Sejak tahun 2013, dia telah didiagnosa menderita penyakit syringomyelia. Selama beberapa tahun, dia menderita karena syringomyelia yang dideritanya.

Bahkan, obat-obatan dari dokter dengan dosis maksimum yang dikonsumsinya tidak mampu menyembuhkan penyakitnya. Kemudian, dia beralih pada pengobatan menggunakan ekstrak ganja. Semenjak menggunakan ekstrak ganja, hidupnya kembali normal. Dia bisa mengurusi keluarga dan dapat bekerja di salah satu studio yoga.

Usai membaca artikel itu, Fidelis tak lantas begitu saja percaya. Dia lantas menghubungi Christina Evans melalui facebook. Saat berbincang, Fidelis cukup terkejut karena pengobatan dengan menggunakan ekstrak ganja didapat atas rekomendasi dokter yang merawat Christina Evans.

"Mama, bagaimana Papa harus menjelaskan semua ini kepada Mama? Ketika Papa berusaha mencari izin dan dispensasi agar bisa mendapatkan dan menggunakan ganja untuk mengobati Mama, tidak ada satu pun yang dapat membantu Papa. Penggambaran ganja yang begitu buruk tanpa didukung hasil penelitian ilmiah begitu kuat di negeri kita, bahkan ganja menjadi tanaman nomor satu yang dilarang penggunaan dan pemanfaatannya," kata Fidelis.

Setelah berpikir panjang, Fidelis akhirnya memutuskan untuk memberikan ekstrak ganja ke dalam campuran makanan dan minuman sang istri. Olahan makanan dan minuman yang diberikan, didapat atas bantuan dari dokter yang tinggal di luar negeri juga melalui percakapan di internet. Fidelis sangat senang ketika sang istri dapat mampu bernyanyi lagu 'pelangi sehabis hujan' karena sebelum diberikan ekstrak ganja, istrinya hanya terbaring lemas di tempat tidur.

"Semenjak Papa mulai intensif memberikan Mama ekstrak ganja, Mama juga mulai lancar berkomunikasi kembali. Kita jadi sering berbagi cerita kembali. Mama banyak mengingat kenangan-kenangan yang pernah kita lalui bersama. Bagaimana kita bertemu pertama kali dan mulai dekat di saat perkuliahan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mengatur waktu dari padatnya jadwal perkuliahan agar dapat pergi ke gereja bersama-sama pada hari Minggu pagi dan mengikuti pendalaman iman di Kanisius Yogyakarta pada sore harinya," kata Fidelis.

"Bagaimana galaunya kita ketika Papa tidak ada uang untuk membayar uang praktikum di jurusan mekatronika yang sangat mahal pada waktu itu dan akhirnya Papa memutuskan berhenti kuliah karena tidak memiliki biaya. Perjuangan kita pun terus berlanjut. Mama bercerita betapa sedihnya Mama setelah kita hidup bersama di Kalimantan karena harus meninggalkan Papa untuk melanjutkan kembali pendidikan bahasa Inggris di Magelang.

Setelah memberikan sang istri ekstrak ganja, Fidelis tak perlu lagi membeli Sanoskin Oxy seharga Rp 320.000 untuk obat yang satu botolnya hanya bisa dipakai 3-4 hari. Sang istri juga tak perlu minum aprazolan atau zypas hanya untuk dapat tidur, tidak perlu lagi minum ulsafate sulcralfate agar tidak muntah dan bisa menelan makanan, tidak perlu minum Dulcolax atau injeksi di anus agar bisa Buang Air Besar (BAB). "Mama tidak perlu meminum obat-obat kimia yang ternyata tidak efektif menyembuhkan Mama. Cukup dengan ekstrak ganja, Papa sudah bisa melihat senyuman di wajah Mama lagi," ucap Fidelis.

Karena tak perlu membeli sejumlah obat yang tak efektif itu, Fidelis akhirnya dapat menghemat uang. Uang yang biasanya dihabiskan untuk membeli obat, bisa dialihkan untuk membeli sepeda bagi anak keduanya, Samuel.

"Mama, Papa jadinya banyak menghemat uang. Papa bisa membelikan sepeda kecil untuk Samuel. Mama belum pernah lihat kan, betapa lincahnya Samuel mengendalikan sepedanya? Papa sebenarnya ada merekam videonya, tapi Papa belum sempat menunjukkannya kepada Mama. Semenjak Mama tidak dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) untuk Samuel karena Mama sakit, Samuel tetap tumbuh menjadi anak yang sehat dan aktif. Saat akan tidur di malam hari, dia hanya perlu mencari sebotol dot berisi teh manis dan sebuah boneka sapi hitam putih yang buntutnya sudah butut. Mama tau enggak, boneka itu sebenarnya hanya hadiah dari salah satu produk makanan anak-anak yang dibelikan budenya. Samuel dapat tidur nyenyak dan terlelap bersama boneka sapi kesayangannya itu," ucap Fidelis.

Dalam surat cinta yang tertuang dalam nota pembelaan itu, Fidelis juga berujar ingin jujur ke sang istri saat dirinya ditahan oleh BNN bahwa pengobatan menggunakan ekstrak ganja. Namun, Fidelis mengurungkan niatnya karena takut sang istri shock. "Beberapa bulan belakangan itu sebenarnya Papa telah mengobati Mama menggunakan ekstak ganja yang Papa olah sendiri. Papa tidak tahu bagaimana cara mendapatkan izin atau dispensasi untuk dapat menggunakan ganja sebagai obat. Pada waktu itu, sebenarnya Papa sudah ditahan oleh pihak BNN. Papa pun kemudian dimasukkan ke dalam penjara," kata Fidelis.

"Sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa Papa lakukan untuk menolong Mama. Usaha Papa untuk memberikan panduan perawatan syringomyelia kepada dokter yang merawat Mama pun ditolak oleh dokter yang merawat Mama. Katanya mereka sudah punya SOP sendiri untuk menangani pasien, padahal Papa berharap panduan itu dapat menjadi tambahan referensi mereka untuk mengobati Mama. Papa hanya bisa pasrah."

Saat sang istri dibawa ke rumah sakit, Fidelis tak dapat membayangkan ketika merawat sang istri menjadi tanggung jawab dari anak pertama mereka, Yuven. "Papa tidak bisa membayangkan bagaimana Yuven harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menyuapi Mama sambil berkonsentrasi untuk membaca buku-buku pelajaran yang dibawanya. Di saat teman-temannya bisa belajar di rumah dengan tenang untuk menghadapi Ujian Nasional SMP, Yuven hanya bisa bermimpi dapat belajar bersama orang tuanya," kata Fidelis.

"Semenjak Mama sakit di tahun 2013, dia sudah harus terbiasa ditinggal berminggu-minggu oleh Papa karena Papa harus membawa Mama berobat dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain, dari kota yang satu ke kota yang lain. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak yang menurut undang-undang dikategorikan masih di bawah umur bersama adiknya yang masih balita? Bagaimana hancur hatinya ketika harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya tidak lagi dapat bertahan hidup setelah selama 32 hari dirawat di rumah sakit, sementara ayahnya harus mendekam di penjara?".

Menutup nota pembelaannya, Fidelis lantas melontarkan permintaan maaf ke sang istri yang telah tiada itu. Fidelis mengucapkan permintaan maaf karena hanya dapat berterus terang melalui surat. "Mama, Papa minta maaf karena hanya bisa berterus terang melalui surat ini. Kita tidak lagi bisa bersama di dunia ini. Kita tidak lagi bisa berbincang tentang hidup ini atau bertengkar tentang rencana esok hari. Sesaat sebelum peti jenazah Mama ditutup, betapa Papa harus menguatkan diri karena tidak lagi mendengar hembusan napas Mama. Kebersamaan dan cinta kasih kita selama ini, akan menjadi harta karun yang tak ternilai untuk Papa. Selamat jalan, wahai istriku. Doa dan cintaku selalu menyertaimu."

Pada kasus ini, dapat dilihat bahwa kekuatan cinta tak berdaya di hadapan hukum. Terlebih, di negeri yang sangat konservatif ini. Ada yang bilang jangan hukum Fidelis karena cintanya. Namun, apa daya, Fidelis telah divonis delapan bulan penjara. Tak lama usai divonis, Fidelis membuat catatan yang bertajuk 'Solilokoui Sunyi'.

Dalam catatan itu, Fidelis mengutarakan keikhlasannya menyandang predikat narapidana meski hanya demi cintanya ke istri. Rasa ikhlas itu diselingi dengan harapan agar waktu bergulir lebih cepat menuju titik akhir dari skenario-skenario hukum yang harus dijalani olehnya, sambil memungut puing-puing cinta yang telah berserakan untuk membangun kembali sebuah keluarga kecil di bumi tempatnya dilahirkan bersama kedua anaknya.
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari