Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Daerah di Limapuluh Kota Jorong Nenan Butuh Perhatian Pemerintah

10 August 2017 12:52 | • Wartawan : Redaksi • Editor : Elvi Darmawarni • Dibaca : 35 kali

LIMAPULUH KOTA - Masyarakat Jorong Nenan,Kenagarian Maek, Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten Limapuluh Kota, yang berpenduduk lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK) berharap adanya perhatian pemerintah terhadap daerah itu.

"Sepanjang sembilan kilometer jalan menuju jorong ini masih merupakan jalan tanah dan bergelombang, untuk kendaraan roda dua, masyarakat harus memodifikasi kendaraan menjadi lebih tinggi dan mengganti dengan ban khusus jalur tanah." Ucap Dedi, salah seorang warga Nenan, Kamis 10 Agustus 2017.

Dia menambahkan, untuk menuju Jorong Nenan, Harus menempuh waktu lebih kurang tiga jam dari Kota Payakumbuh, sedangkan dari Pasar kamis Maek, Limapuluh Kota, harus menempuh lebih kurang satu jam dengan jarak sembilan Kilometer

Dedi menjelaskan, selama ini, hanya satu atau dua kepala daerah yang datang berkunjung ke jorong ini, sedangkan untuk anggota dewan, dalam setahun hanya sekali datang melihat kondisi kami.

Untuk sampai di jorong tersebut, masyarakat harus melewati tiga jembatan yang terbuat dari kayu, jalan yang di sisi tebing dan jurang serta bergelombang. Sedangkan, untuk listrik, masyarakat memanfaatkan Pembangkit listrik tenaga hidro. Masyarakat disana

kebanyakan adalah pekerja dan peladang gambir.

"Kalau kita menjual gambir keluar, harganya bisa mencapai 80 ribu per kilogram. Sedangkan, kalau kita jual ke toke yang menjemput ke Nenan, gambir hanya dibeli dengan harga 40-50 ribu rupiah perkilogram," lanjut Dedi.

Dedi berharap, pemerintah segera memperbaiki jalan ke Jorong dalam hutan tersebut. Agar masyarakat memiliki akses yang lebih baik, sehingga ekonomi mereka dapat meningkat, demikian juga dengan aktivitas lainnya seperti kebutuhan pendidikan.

"Saya berharap,pemerintah memperbaiki jalan ini. Karena, anak yang orang tuanya berladang gambir,bisa menyekolahkan anaknya ke luar. Tapi orang tuanya yang tidak memiliki ladang gambir, harus terhenti sampai kelas 6 SD," Akhir Dedi.

Berbeda dengan Dedi, Mela harus terhenti pendidikannya sampai kelas 6 Sekolah Dasar (SD) karena keterbatasan biaya dan sekolah SLTP dan SLTA harus keluar dari Nenan.

"Saya hanya sekolah sampai SD, karena kalau saya lanjut ke SLTP dan SLTA, saya harus ngontrak, sedangkan kehidupan kami hanya cukup untuk makan. Sebab kalau bolak balik dari Nenan, sangat melelahkan dan berbahaya," Ucap Mela.

Mela menjelaskan, orang tuanya yang memiliki ladang gambir, bisa menyekolahkan anak-anaknya ke luar jorong Nenan, sedangkan Mela mengaku bahwa ia bersama keluarganya hanya memiliki warung kecil di depan rumahnya.

Untuk pendidikan, jorong Nenan hanya memiliki 1 sekolah Taman Kanak - Kanan dan satu Sekolah Dasar. Sedangkan untuk sekolah SLTP dan SLTA, anak-anak Nenan harus melanjutkan ke Maek dan ke nagari Suliki. (Arya I)

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari