Duka Di PA Sumbar

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Duka Di PA Sumbar

03 October 2013 14:50 | • Wartawan : Andri Mardiansyah • Editor : • Dibaca : 511 kali
Hello Genk !!!!, yel-yel ini sangat akrab di lingkungan penggiat pecinta alam, baik Mapala, KPA, maupun komunitas atau organisasi penggiat sejenis, hampir setiap saat ketika berada di alam terbuka meneriakkan yel ini, baik untuk membangkitkan semangat, maupun cek kondisi anggota dilapangan. Namun siapa sangka teriakan penuh semangat dan makna ini sementara berubah seketika menjadi kata duka, insiden naas yang dialami delapan mahasiswa pecinta alam Unand (MU) kembali menambah luka dikalangan aktifis penggiat alam. Ivo Nurdio Putra (24), Meta Rama Rita (21), Artika Caspella (20), Elin Florita (19), Vegian Rizki Ananda (19), Rezki Tega Hentelmi (20), Deni Linardo (21), Aidil Akbar Walsya (19), Sabtu (28/9) lalu dikabarkan terseret air bah saat melakukan kegiatan rutin, survey lokasi pendidikan dasar Mapala, malangnya 4 dari mereka tewas peristiwa tersebut, sedangkan satu diantara mereka atas nama Aidil Akbar Walsya hingga saat ini belum diketahui keberadaan serta kondisinya.

Sontak, kabar mengejutkan ini membuat gempar kalangan pecinta alam, seluruh elemen tanpa pikir panjang langsung mencari informasi dan bergerak ke lokasi insiden, kenapa seperti itu ?, itulah yang sering mereka sebut dengan kecintaan terhadap sesama penggiat, besarnya jiwa korsa yang dimiliki membuat mereka merasa bertanggung jawab atas apa yang menimpa, walau tak dipungkiri masing-masing organisasi pecinta alam memiliki ego masing-masing, namun ketika ada peristiwa semacam ini semua dikubur dalam-dalam, semua bersatu dalam satu bendera, saling bahu membahu membantu proses pencarian bahkan evakuasi.

Peristiwa naas yang dialami delapan rekan dari Mapala Unand kembali membuka mata kita lebar-lebar, inilah bentuk satu kesatuan yang sebenarnya, tidak ada perbedaan, semua sama dengan satu tujuan, bagaimana korban berhasil ditemukan, tak peduli kondisi fisik yang kian hari terus menurun, tak peduli apa pandangan dunia luar, yang jelas satu misi kemanusiaan.

Tak hanya keluarga korban Aidil Akbar Walsya yang tak nyenyak tidur dan kenyang makan, memikirkan kondisi serta keberadaannya, seluruh penggiat yang tergabung dalam satu unit (tim sar) juga mengalami hal serupa. Apapun konsekuensi nya, bagaimanapun caranya kita harus berhasil menemukan rekan kita aidil, teriak tim kala proses pencarian dimulai.

Siapa yang tak kenal dengan nama Mapala Unand ? segudang prestasi telah ditorehkan lewat tinta emas dari anggota yang aktif, skala lokal, nasional bahkan internasional membuat bendera dengan warna orange dan lambang simpul tali itu terus berkibar, namun terlepas dari itu semua, kita juga paham semua aktifitas petualangan yang membutuhkan nyali tinggi pasti ada resiko. Tak sedikit penggiat pecinta alam di Indonesia harus meregang nyawa ketika menjajal nyali, mengasah kemampuan dan mental di alam ciptaan yang maha kuasa ini.

Tragedi MU kali ini membuat hening aktifitas alam bebas, namun ramai akan aktifitas kemanusiaan, duka yang timbul atas apa yang menimpa kedelapan rekan tersebut bukan hanya dirasakan sesama anggota MU saja, namun jauh dari itu menarik perhatian yang dalam semua kalangan penggiat, bahkan masyarakat sekalipun. Semua kepala tertunduk lesu, hening cipta dilakukan, segudang doa dipanjatkan agar Aidil Akbar Walsya segera ditemukan, ya..Aidil Akbar Walsya sejak insiden terjadi hingga kini masuk hari kelima belum diketahui keberadaan serta nasibnya, Hello Genk...dimana kau genk, tunjukan dirimu, tak kan lelah kami mencari mu, ayoo lah jangan lagi kita bermain petak umpet seperti ini, ini memang sudah garis tangan yang maha kuasa, namun ingat lah kawan setiap usaha pasti akan ada hasil, cepat atau lambat, duka kami sangat dalam kawan, kau orang hebat dan memiliki prestasi baik, kau salah satu bagian terbaik dari kami. Seluruh rekan mu sesama pecinta alam memang terpuruk dan penuh duka lara, namun semangat serta pekerjaan rumah yang kau tinggalkan akan tetap kami emban hingga batas waktu nantinya.

Ungkapan semangat pencarian bukan hanya tertoreh dalam tulisan ini, setiap evalusasi pergerakan tim Sar selalu disampaikan dengan nada lantang keras, Kakan Sar Padang, Zainul tak henti-hentinya mengapresiasi kebersamaan tim dan daya solidaritas yang tinggal, "Aidil bukan hanya sekedar teman biasa, namun ia adalah bagian dari diri kita, secara kemanusiaan kita dituntut untuk terus menemukan Aidil dalam kondisi hidup atau mati", tutur Zainul dengan nada yang terisak.

Satu pesan dari semua tim, setiap operasi kemanusiaan jangan pernah ada unsur politik yang hinggap, semua murni kemanusiaan, jangan ada yang mengatasnamakan satu partai, atau organisasi yang hanya mencari sensasi dan pencitraan saja. Walau pada kenyataan nya setiap operasi Sar selalu terkendala oleh persoalan perut (konsumsi/logistik), namun bukan berarti bisa dipolitisasi oleh segelintir kelompok demi kepentingan pribadi semata. Tradisi sejak dulu, semua logistik didapat dari swadaya pribadi maupun bantuan luar yang peduli tanpa meminta embel-embel apapun.

Dihari kelima ini, dengan segenap sisa tenaga dan semangat juang, seluruh personil tetap berusaha keras menemukan keberadaan Aidil, walau kemungkinan selamat sangat tipis. Kasi Opersional Basarnas Padang, Juanda menyampaikan dihari kelima ini kemungkinan korban ditemukan 80 persen, tanda-tanda jejak serta bau dari ngin laut, salah satu pertanda buat kita kalau korban sudah dekat dengan tim dan dapat ditemukan,"kita akan terus berupaya keras untuk menemukan keberadaan korban"tegasnya.

Melihat apa yang diupayakan seluruh tim untuk dapat menemukan korban dan mengobati duka lara ini, kita semua sudah sepantasnya untuk berdoa agar apa yang diharapkan segera tercapai. (*)
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari