Carut Marut Satuan Penegak Perda Kota Padang

Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Carut Marut Satuan Penegak Perda Kota Padang

08 August 2013 21:30 | • Wartawan : Andri Mardiansyah • Editor : • Dibaca : 594 kali
Institusi Penegak Perda atau yang lebih akrab dengan sebutan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Padang, akhir-akhir ini santer menjadi topik hangat pemberitaan di sejumlah media lokal, pasalnya institusi satu ini yang kerap diagung-agungkan akan mampu memberantas segala macam bentuk kemaksiatan ternyata mandul dan jauh dari harapan. Buktinya masih banyak tempat-tempat hiburan malam, payung ceper di sepanjang kawasan Danau Cimpago Purus yang tetap beroperasi walau di bulan puasa yang seharusnya dijadikan sebagai bulan yang mampu menjadi ajang refleksi perubahan yang lebih baik dengan alasan desakan ekonomi belaka. Bicara soal tempat hiburan malam sudah barang tentu benak kita akan mengarah kepada tindakan yang bertentangan dengan norma agama dan adat istiadat di Ranah Minang. Suguhan minuman keras di tengah dentuman musik remix serta dimanjakan oleh penampilan wanita entah apakah hanya sebatas pramusaji minuman atau lebih dari itu, yang jelas tempat ini sarat dengan kemaksiatan. Begitupun sebaliknya dengan payung ceper yang berdiri hanya setinggi satu meter bahkan kurang dari itu sarat dengan perbuatan maksiat, walau para pemilik berdalih mereka tidak memberi ruang kepada pengunjung untuk melakukan perbuatan tersebut, namun siapa yang bisa menyakinkan itu semua?, pengunjung payung ceper yang rata-rata kebanyakan dari kaum muda-mudi yang tengah dilanda mabuk asmara tentu akan menyalahgunakan tempat ini untuk perbuatan yang tidak senonoh dalam berbagai kesempatan.

Pemko Padang melalui Sat Pol PP Padang yang merupakan institusi penegak Perda memang memberikan izin bagi pemilik payung ceper untuk beroperasi sebagai bentuk dari pelayanan wisata Kota Padang, tentunya dengan ketentuan tinggi payung harus lebih dari 1,5 meter agar aktifitas pengunjung dapat dilihat dan dipantau terutama di jam sore hingga malam hari. Namun entah apa yang salah, baik himbauan, peringatan keras bahkan penertiban yang kerap berujung bentrok antara petugas dan pemilik sama sekali tidak membuahkan hasil yang maksimal, payung ceper pun tetap beroperasi meski di bulan puasa. Begitupun dengan beberapa tempat hiburan malam (Kafe, red) walau sudah diberi surat edaran untuk tidak beroperasi selama bulan puasa, toh para ppemilik tetap saja membandel.

Pantauan Wartawan sepanjang malam di bulan puasa, walau kerap razia penertiban dilakukan Sat Pol PP Padang, namun kafe hiburan malam tetap saja ada yang beroperasi selayaknya di hari-hari biasa. Tak sedikit wanita malam yang juga diduga kuat merupakan pekerja sex komersil tertangkap tangan saat menemani tamu kafe digirinng ke mako untuk didata lebih lanjut. Data ? ya mereka yang terjaring hanya didata untuk kemudian esok paginya dilepas kembali, di Mako Pol PP pun sepertinya mereka tidak menunjukan sikap menyesal atau cemas, karena sepertinya mereka sudah tau prosedur jika tertangkap, ya hanya didata saja dan dicatat dalam buku besar yang katanya untuk arsip jika sudah tiga kali tertangkap maka akan segera dikirim ke panti rehabilitasi Andam Dewi, Sukarami, Solok. Begitupun sebaliknya dengan tempat hiburan malam, sedikitpun tak ada rasa takut akan kedatangan petugas.

Kenapa, baik pemilik tempat hiburan malam atau payung ceper tetap nekat beroperasi di bulan puasa meski sudah mendapat larangan tegas ? Siapa yang salah ? Apakah hanya dengan alasan desakan ekonomi semata mereka bersikukuh untuk tetap buka atau memang sudah menjadi penyakit moral yang sangat kronis ? Hasil investigasi di lapangan, beberapa di antara mereka yang nekat tetap beroperasi mengaku kalau selama ini sudah memberikan setoran berupa sejumlah uang kepada petugas Sat Pol PP Padang sebagai uang keamanan agar tidak terkena razia. Miris, sangat miris di saat institusi penegak Perda ini sangat diharapkan banyak pihak untuk memberantas seluruh bentuk kemaksiatan yang ada, malah sebaliknya, memberikan ruang gerak yang sangat luas kepada pemilik dengan memungut bayaran berupa uang keamanan tersebut.

Masih ingat dengan pemberitaan seputar kasus Lahirman (40), salah satu anggota Sat Pol PP Padang yang kabur dari sel tahanan Mako ? Hanya beralasan tindakan indispliner, Kepala kantor Sat Pol PP Padang, Nasrul sugana mengkandangkan Lahirman di balik jeruji sel tahanan Mako tanpa diberi makanan dan minuman. Kala itu Lahirman dituduh mangkir dari instruksi Kakan yang mana saat operasi penertiban pada Selasa (29/7), Sugana memberikan instruksi untuk menertibkan pedagang petasan, namun sebaliknya saat tiba di Mako, bukannya petasan atau pedagang yang digiring, malah beberapa wanita sexy yang dibawa. Lahirman bersama dengan anggota Pol PP Lainnya menjaring wanita di beberapa tempat hiburan malam dan di kawasan Bungus. Awalnya Lahirman sempat mempertanyakan kenapa dirinya mendapat hukuman hingga harus dijebloskan ke dalam penjara, namun pertanyaan itu sama sekali tidak dijawab oleh sang komandan. Tak kunjung mendapatkan alasan pasti atas penahanannya, dan mendapatkan perlakuan yang tak wajar, Rabu (31/7) lahirman pun nekat mendobrak paksa pintu sel dan berhasil kabur. Pasca kabur dari sel tahanan, Lahirman bernyanyi, bahwa ia menduga alasan penahan terhadap dirinya bukan karena tindakan indisipliner melainkan terkait dengan tindakannya merazia Kafe hiburan malam di kawasan jalan Hang Tua dan Bungus yang disinyalir kuat dibekingi sang Komandan, Nasrul Sugana.

Melihat serta mendengar pengakuan Lahirman, Wartawan kembali menyambangi salah satu kafe hiburan malam di kawasan Atom Center, Senin Sore (6/8), salah satu pemilik yang akrab disapa "AK" mengungkapkan bahwa selama ini rata-rata tempat hiburan malam menyetor sejumlah uang tunai setiap bulannya kepada oknum anggota Sat Pol PP Padang, sebagai uang keamanan dan informasi jika ada razia, namun akibat sering terlambatnya uang setoran tersebut diberikan kepada mereka, tetap saja kita terkena imbas dari razia. Tak itu saja, AK melihat razia dengan alasan memberantas kemaksiatan terkesan tebang pilih, banyak tempat hiburan malam atau bahkan hotel yang kerap dipergunakan sebagai tempat maksiat tidak dijamah, contoh saja wisma di kawasan Sisingamaharaja, jalan Sudirman dan beberapa tempat lainnya, sama sekali tidak pernah digerebek. Apakah Pol PP Padang sudah menerima setoran cukup atau malah takut karena tempat-tempat tersebut diduga dibekingi oleh oknum aparat penegak hukum lainnya? Kenapa tempat-tempat yang kerap dirazia hanya itu-itu saja ? "Jika judulnya memberantas kemaksiatan di Kota Padang ya jangan pilih-pilih dong, semua harus ditertibkan, bukan malah tempat hiburan yang kecil seperti kami ini saja yang menjadi sasaran," ketus AK.

Saat dikonfirmasi ke Kakan Pol PP Padang, Nasrul Sugana membantah keras atas tuduhan terhadap dirinya yang dilontarkan oleh Lahirman, Sugana mengatakan kalau penahanan Lahirman terkait dengan tindakan indisipliner yang tidak mengikuti instruksi pimpinan serta dituduh melepaskan semua hasil tangkapan malam itu. "Saya membantah keras atas tuduhan yang dilontarkan oleh Lahirman, ia terpaksa ditahan dalam sel karena tidak mengikuti instruksi pimpinan dan dituduh melepaskan semua wanita yang berhasil dijaring, itu merupakan kesalahan bentuk indispliner, bukan karena merazia kafe liar yang kata dia saya membekingi jalannya operasi kafe tersebut, sedangkan dalam menjalankan amanah untuk memberantas tempat maksiat kita tidak ada yang namanya tebang pilih, semua tempat akan kita tertibkan jika disinyalir sebagai tempat maksiat, semua butuh proses dan waktu" tegas Nasrul Sugana, Senin (6/8).

Penasaran dengan apa yang diutarakan oleh AK tentang sejumlah wisma yang diduga kuat merupakan tempat esek-esek, Wartawan kembali mencoba menelusuri lebih dalam tentang hal itu, beranjak dari kawasan Taman Melati yang sudah menjadi rahasia umum menjadi tempat transaksi esek-esek dengan wanita berbagai usia. Selang beberapa jam mengamati gerak gerik yang ada, tim Wartawan pun mengikuti ke mana arah mobil yang di dalamnya terdapat sejumlah wanita penjaja kenikmatan. Mencoba menjaga jarak agar tidak ketahuan sang sopir, tim berhasil mengikuti laju kendaraan hingga berhenti disalah satu wisma di kawasan Sisingamaharaja. Tim melihat sosok pria dan wanita turun menuju receptionis, tak lama kemudian, mereka berdua lenyap di dalam kamar wisma, apalagi yang diperbuat antara dua pasangan lain jenis di luar pernikahan jika bukan perbuatan maksiat.

Lagi-lagi ketika hal ini disampaikan ke Nasrul Sugana, pria bertubuh tegap itu tetap berdalil bahwa selama ini baik tempat hiburan malam , payung ceper serta fenomena "gadis avanza" atau taxi selalu ditertibkan sesuai dengan surat himbauan atau instruksi dari Walikota Padang yang kemudian tertuang dalam Himbauan Nomor 02/H/Humas dan Protokol/2013 yang menjadi dasar Pol PP untuk bertindak melakukan razia penertiban di semua tempat hiburan malam yang beroperasi. Namun ketika didesak soal wisma tersebut, Sugana hanya mampu menjawab hal itu akanditelusuri kebenarannya, "jika terbukti maka kita akan melakukan koordinasi lebih lanjut dan segera menindak tegas tempat itu," kata sugana. Jawaban klasik, namun itulah kenyataannya hingga saat ini, yang jelas Satuan Perda ini harus bertindak lebih lagi jika menyangkut kemaksiatan, baik itu dalam bentuk tindakan persuasif maupun preventif.

Melihat fenomena itu, Buya Masoed yang juga pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Sumbar ini mengatakan bahwasanya para aparat penegak perda, instansi terkait bahkan pemilik payung ceper memiliki pendidikan yang salah tentang budi pekerti, mental dan moral keagamaan, masa sudah tahu bulan puasa tetap saja perbuatan seperti itu terjadi. Semua elemen harus diberi pemahaman serta sosialisasi lebih mendalam tentang makna keagamaan, agama sudah melarang tegas perbuatan maksiat kenapa ruang untuk berbuat maksiat malah diberikan bahkan terkesan dibiarkan begitu saja. Jika sudah mengatasnamakan institusi penegak perda dan hukum, setelah dilakukan himbauan maka tindakan tegas harus dilakukan,"ini menyangkut norma agama dan adat istiadat yang sangat melekat di ranah sirah ini, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, maka sudah seharusnya kita bersama mencegah bahkan menghapuskan kemaksiatan yang marak terjadi selama ini," ketus buya.

Apapun fenomena yang terjadi, semua elemen dari kita harus lebih konsisten untuk membrantas kemaksiatan sebagaimana mestinya, atau jika tidak mampu maka beri saja ruang pasti untuk itu dengan melegalkan atau membuat tempat lokalisasi di suatu tempat yang jauh dari pusat kota, jelas pula APDB akan bertambah tiap bulan nya dari pajak yang dipungut dari tempat itu, sebagaimana di provinsi lain. Karena jika ditelusuri lebih dalam kegiatan prostitusi di Kota Padang sungguh hal yang fenomenal, di sisi lain Kota padang terkenal dengan budaya adat istiadat yang cukup kental, kegiatan keagamaan yanjg cukup baik, Pemko Padang melalui Walikotanya Fauzi Bahar mencanangkan program Pesantren Ramadhan, serta membangun image kota padang dengan menerapkan Asmaul Husnah. Di sisi lain lagi, kehidupan Kota Padang sebagai Ibukota Provinsi Sumbar juga tak lepas dari kegiatan hiburan malam yang menyajikan berbagai suguhan, banyak wisatawan baik lokal, nasional, bahkan Internasional yang berkunjung ke Padang, sudah barang tentu mereka akan menelisik kehidupan malam yang sarat bertentangan dengan norma agama dan adat. Namun apa hendak dikata semua itu tak kan bisa lepas dari fenomena zaman yang terus berkembang. Sudah saat nya pemerintah di kota ini harus memikirkan langkah yang jitu untuk solusi  yang lebih lagi terhadap hal-hal yang Subtansial khususnya yang berkenaan dengan kegiatan tindakan prostitusi, selain pembinaan karakter mendalam, pemerintah dalam hal ini pun harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan baik bagi pemilik kafe hiburan malam, payung ceper, maupun PSK, agar tidak ada lagi alasan desakan ekonomi yang menjadi latar belakang keterpaksaan mengapa pekerkaan itu dipilih.

Jika kita menelaah lebih lanjut, sebuah panti rehabilitasi dibangun karena banyaknya angka pekerja sex yang ada, di samping panti ini juga merupakan tempat pembinaan karakter dan mental, namun silahkan dilihat kenyataannya, tak sedikit wanita yang diduga PSK dikirim ke Panti Rehab Andam Dewi, Sukarami, Solok. Ini bukti nyata bahwa tingkat sosial prostitusi di Kota Padang Cukup tinggi. Maka dari itu, instansi terkait harus lebih jeli dan memberikan solusi konkrit jika memang mengatasnamakan Kota Padang bebas dari kemaksiatan. Data terakhir yang diperoleh Wartawan selama bulan puasa Sat Pol PP berhasil menjaring kurang lebih 56 wanita malam baik PSK (Pekerja Seks Komersial) maupun yang bukan, dari ke 56 wanita malam tersebut 15 orang di antaranya sudah dikirimkan ke pusat rehabilitasi di Sukarami, Solok untuk dibina lebih lanjut. (*)
KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari