Registrasi

 
Nama Lengkap
Email
Password
Ketik ulang Password
Jenis Kelamin
Pria Wanita

Member

 
Email
Password
Indosiana.com akan menggunakan informasi yang Anda berikan sesuai dengan "Privacy Policy" kami. Dengan mengklik Sign Up, berarti Anda setuju dengan ketentuan "Terms of Use" dan "Privacy Policy" ini, dan menyadari sepenuhnya bahwa pengumpulan, penyimpanan dan penggunaannya tunduk pada ketentuan dan perundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia.

Full Day School Masih Dirisaukan Warga NU

11 August 2017 15:37 | • Wartawan : redaksi • Editor : Elvi Darmawarni • Dibaca : 8 kali
JAKARTA - Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj, full day school mengancam mengikis madrasah diniyah yang selama ini menjadi tradisi NU.

Penerapan full day school akan mengakibatkan anak-anak kehilangan waktu mengaji. Kemudian tidak mengerti pendidikan akhlak (akal budi), takdim (menghormati yang lebih tua), serta tidak mengenal sifat 20 yang merupakan sifat keilahian.

"Jika semua tradisi itu hilang akibatnya dijamin ke depan akan lahir generasi bangsa yang memiliki sifat radikal," ujar Kiai Said dalam acara grand launching Peringatan Hari Santri 2017 di Kantor PBNU Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Acara dihadiri Rais Am KH Makruf Amin, Ketua RMI NU KH Abdul Ghofar Rozin, serta perwakilan dari Mendagri dan Kapolri. Kendati demikian Kiai Said menegaskan bahwa full day school bukan persoalan NU atau Muhammadiyah.

Penolakan terhadap program full day school, kata Kiai Said bukan karena Menteri Pendidikan Muhajir Effendy berlatar belakang Muhammadiyah.

Meskipun menteri berlatar NU atau kiai, dia menegaskan, tetap akan melawan kebijakan full day school. Dalam kesempatan itu, Kiai Said juga menyatakan, menaruh hormat dan siap mendukung Muhajir Effendy. "Asalkan (Muhajir Effendy) tidak bikin goro-goro (gara-gara)," tegasnya.

Saat ini tercatat sebanyak 23.300 pondok pesantren (Ponpes) dengan jumlah 4 juta santri di bawah naungan NU.

Kemudian masih ada 4 ribu lebih sekolah diniyah dengan 7 juta santri beramaliyah Nahdliyin. Bila kebijakan full day school diterapkan, NU terancam kehilangan semua itu.

Khusus membicarakan full day school Kiai Said mengaku sudah dua kali bertemu Presiden Joko Widodo. Kiai Said meminta Presiden segera mencabut kebijakan kontraproduktif itu.

Jika hal itu tidak dilakukan, Kiai Said mengatakan, NU tidak bertanggung jawab jika Indonesia ke depan banyak lahir generasi radikal. "Semoga segera muncul Perpres yang isinya mencabut peraturan menteri itu," pungkasnya.

KOMENTAR PEMBACA
Nama
Email
Komentar
 
  (masukkan kode di atas)
 
Sumatera Barat
Internasional
Yogyakarta
Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Utara
Riau
Papua Barat
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku Utara
Maluku
Lampung
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jambi
Gorontalo
Bengkulu
Banten
Jakarta
Bali
Papua
Sumatera Utara
Aceh
Nasional

Terbaru

Terpopular

Dikomentari